1995, di sela-sela terbang perdananya Gatot Kaca
“Pak, haruskah aku mengubah negeri ini?”
Bapak tersenyum, masih kuingat senyum itu, sampai saat ini, sampai aku menulis ini.
“Tentu saja, Nak, membawa perubahan adalah kewajiban seorang muslim, jauh dari itu perubahan itu sendiri adalah keniscayaan. Jadi, kalau bukan kita yang memimpinnya, akan ada orang di luar sana yang akan melakukannya.”
“Tapi, Pak, bukankah jika perubahan itu, perpindahan keadaan itu dilakukan oleh orang di luar sana, niatnya sudah tidak suci lagi?”
Bapak agak terkejut mendengar pertanyaanku, namun segera ia sumringah kemudian.
“Nak, ingatlah ini nasihat, siapa bersungguh-sungguh ia yang akan mendapat. Tak peduli apapun motivasinya, niatannya, karena Allahkah atau yang lain. Lihatlah hadits Rasulullah tentang hijrah, siapa yang hijrah karena ingin Ridha dari Allah akan mendapatkannya, kalau hijrahnya untuk dunia, ia pun akan mendapatkannya.”
“Baiklah, Pak, dengan tangan ini aku akan pimpin perubahan itu, hijrah itu.”
“Semangatmu baik, Nak, hanya kau jangan lupa bahwa perubahan itu tidak cukup dibawa satu orang, ia harus bersama-sama, ada ke-kita-an.”
“Aku tidak mengerti Pak.”
“Cobalah kau baca lagi fragmen kisah hijrahnya Nabi Musa AS. dan Nabi Muhammad SAW. Ketika di pinggir Laut Merah, saat tentara Fir’aun sudah mulai mendekat,, Bani Israel mengadu kepada Nabi Musa bahwa mereka akan tertangkap. Apa jawab Nabi Allah ini, dia berkata, tenang itu tidak akan terjadi, Tuhanku bersamaku. Kemudian, coba kita beralih pada saat Rasulullah SAW. berada di dalam Gua Tsur yang berada di pinggiran kota Mekkah. Saat itu, Abu Bakar ra. sudah begitu cemasnya karena para kafir musuh-musuh Allah sudah ada beberapa meter saja dari mereka. Apa reaksi dari Rasulullah, dia tenang mengucapkan, jangan takut jangan bersedih, Allah bersama kita”.
(Surat Cinta Untuk Ayah Bunda/ Muhammad Akhyar)
No comments:
Post a Comment